AYAT PILIHAN-16 Surat AL BAYYINAH ayat 5 “BERAGAMA DENGAN LURUS

BERAGAMA DENGAN LURUS

Apakah anda beragama? Dijawab: “ya saya memilki agama dan Agama saya adalah Islam. Kalau anda memang mengaku beragama, apa yang dimaksud agama menurut anda?……..). Mungkin tanya jawab diatas pernah dialami atau akan kita alami juga. Nah” kalau kita bisa menjawabnya Alhamdulillah, tetapi kalau kita tidak bisa menjawabnya atau menjawabnya tanpa dengan keilmuan, rasanya akan malu dan bukan hanya rasa malu tetapi bisa jadi kalau tidak memahami apa itu agama, kita akan lalai dalam beragama yang kita yakini (agama Islam).

Banyak para ahli dibidang bahasa, sejarah atau ulama yang mengartikan tentang agama, dan didalam kamus besar Bahasa Indonesia ada (silahkan dibaca). Kita coba memahami apa makna agama itu, supaya dalam menjalankan agama benar-benar dengan keilmuan bukan dengan naluri/perasaan saja. Agama (addiin/diin=diinnul islam). Addiin berarti peraturan, pedoman, batasan (Surat Al Maa idah,87). Addiin berarti pembalasan (Al Fatihah, 4). Addiin berarti nasihat (Rasulullah saw; “ad diin adalah nasihat”. HR. Muslim dalam kumpulan hadits Imam Nawawi). Peraturan/pedoman adalah Alquran dan As Sunnah. Pembalasan adalah balasan yang akan diterima dari hasil perbuatan,apabila baik akan menerima balasan pahala dan perbuatan buruk akan mendapatkan balasan siksa. Nasihat adalah (secara bahasa dari kata “nash” yang berarti halus, bersih, murni, lawan dari kotor atau curang) secara istilah adalah sebuah kata yang mengungkapkan kemauan untuk berbuat baik (sesuai dengan yang ditentukan/diperintahkan Allah, dan sesuai dengan yang diperintahkan dan dicontohkan Nabi Muhammad saw). Sekarang kita jawab pertanyaan (Apa yang dimaksud agama ?) Agama bagi diriku adalah aturan yang mengatur hidupku yang mana aturan itu ditetapkan didalam Alquran dan As Sunnah, maka kalau aku tidak melaksanakan apa yang diperintah Allah dalam Alquran dan apa yang diperintahkan Rasulullah saw serta yang dicontohkannya aku telah berbohong dalam beragama Islam, aku wajib mengetahui apa yang diatur dalam agama yaitu yang meliputi perkara yang wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah, maka kalau aku tidak mau belajar untuk mengetahui perkara itu aku telah berbohong dalam beragama. Aku memahami bahwa didalam beragama ada perintah yang harus dijalankan dan ada perkara yang dilarang yang harus dijauhi, apabila aku melaksanakan perintah-Nya maka aku akan dibalas dengan pahala, dan apabila aku melanggar perintah-Nya serta aku melakukan yang dilarang-Nya akan dibalas dengan siksa, maka aku harus bertaqwa (memelihara diri dari murka Allah) sebab kalau aku tidak bertaqwa aku telah berbohong dalam beragama. Agama memerintahkan aku supaya berbuat baik dalam hubungan dengan Allah dan berbuat baik dalam hubungan dengan sesama manusia, itulah nasihat yang harus aku miliki dan aku jalani dalam kehidupan beragama, maka aku harus “BERAGAMA DENGAN LURUS”. Kita coba mengkaji Surat Al Bayyinah ayat 5, untuk mendapatkan petunjuk dalam beragama yang lurus (insyaAllah).

@. Al BAYYINAH ayat 5. Allah berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh melainkan supaya mereka menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. Perkataan “mereka” adalah orang kafir yaitu orang-orang yang menutup/menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasul saw. Mereka tidak mau merobah pendiriannya, tetap mengikuti kepercayaan dan amalan dari nenek moyang mereka walaupun sudah datang kebenaran yang dibawa oleh Rasul saw. (Syeach Muhammad Abduh dalam tafsir Juz ‘Amma-nya memberikan peringatan, bahwa ayat ini turun mengisahkan sikap ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani) serta orang-orang musyrik yang menyembah berhala, namun  sikap kafir atau penolakan terhadap perintah Alquran dan As Sunnah masih ada di kalangan kaum muslimin pada saat ini, walaupun sudah datang keterangan yang jelas dari Alquran dan hadits shahih, tetap saja tidak mau melepaskan kepercayaan dan amal yang tidak dicontohkan oleh Rasul saw. Kemudian di ayat yang ke 4 terpecah belahnya orang-orang yang sudah datang kebenaran (keterangan yang jelas dari Alquran dan Hadits). Terjadi saling menyalahkan antara orang yang masih memegang kepercayaan leluhur dan yang sudah meninggalkan kepercayaan itu, saling menghujat tentang perkara bid’ah dan terkadang masalah khilafiyah menimbulkan pertengkaran yang berujung pada permusuhan, saling membanggakan kelompok/organinasi yang mengarah kepada satu mazhab, yang terkadang Fiqih mazhab yang bernilai tinggi hasil ijtihad ulama yang mendalam keilmuannya, jadi senjata ampuh untuk saling mengalahkan bahkan sampai  saling hina menghinakan. Cobalah kita renungkan! Saya beragama Islam”, Islam secara bahasa (aslamu-yuslimu-islaman)= “menyelamatkan” contoh saat kita mengucapkan “Assalamu ‘alaikum (semoga keselamatan menyertai kalian semua) ketika kita mengucapkan salam kepada seorang/banyak bermakna mereka aman dari ucapan kita yang jahat, aman dari kelakuan kita yang buruk dan kedengkian hati. Islam berakar dari kata salam yang berarti kedamaian. Kata Islam lebih spesifik lagi dari Aslama yang bermakna “untuk menerima, menyerah atau tunduk” dan dalam tujuannya adalah “menerima perintah Allah serta tunduk dan patuh kepada Allah. Maka lanjutan ayat; “Supaya menyembah (beribadah) kepada Allah dengan ikhlas dalam menjalankan agama dengan lurus”. Ikhlas adalah suci-murni (tidak bercampur dengan yang lain). Ikhlas menurut istilah ialah mengerjakan ibadah atau kebaikan karena Allah semata-mata dan hanya mengharapkan keridhoan-Nya. Mukhlis adalah orang yang beribadah kepada Allah dengan niat karena diperintah Allah dan mengharapkan keridhoan Allah semata, bukan karena ingin pujian dan sanjungan dari orang, untuk mendapatkan pangkat/kedudukan dll. Perkataan “dengan lurus” menggunakan “hunafaa” mufrad-nya (tunggal)-nya adalah “hanif” yang bermakna condong kepada kebenaran (sesuai dengan yang diperintah Allah dalam beraqidah dan beramal). Lanjutan ayat: “dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat”. Shalat merupakan hubungan dengan Allah dan zakat kaitannya dengan membantu fakir miskin/yang berhak menerima bantuan. Maka dengan shalat dan zakat terbuktilah hubungan yang baik dengan Allah dan hubungan dengan sesama  manusia. Ujung ayat; “dan yang demikian itulah “AGAMA YANG LURUS”. Perkataan lurus pada ayat ini dengan “Al-Qayyimah yang bermakna “lurus, tidak bengkok, keseluruhannya merupakan kebenaran”. Agama yang lurus adalah “yang ikhlas dan benar dalam aqidah, yang ikhlas dan benar dalam beribadah (sesuai dengan perintah Allah dan Rasulullah saw), yang ikhlas dan benar dalam menjalankan agama yang meliputi hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia”.

Wallahu ‘alam bishshawab

R. Yuhaedi Ahmad

Bagala Asih Panyipuhan Sumedang Larang

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>